“Her, jari-jari lo lucu ya bentuknya, kayak kacang panjang
” . Itu kata Tania, salah satu teman dekat saya di SMP, orang pertama yang dengan pas menggambarkan bentuk jari-jari saya he-he-he……Salah satu hal yang saya sukai dari Tania adalah keterusterangannya, bicara apa adanya
Salah satu teman yang saya rasakan ketulusannya meskipun kadang saya kaget-kaget mendengar nada suaranya yang saya rasa akan menyulitkan pacarnya ketika mau ngobrol romantis dengan bisik-bisik hi-hi-hi…..
Kembali ke soal jari, sejak saya menyadari (saya lupa kapan tepatnya, yang pasti sudah cukup lama :p) bentuk jari saya berbeda dengan kebanyakan orang saya jadi sering minder. Bagaimana ya, saya melihat jari orang lain kok bentuknya bagus, lentik dan luwes ….Beda banget dengan jari saya yang kaku, bengkok, seperti kata Tania, mirip kacang panjang
Saya jadi sering grogi kalau harus menggunakan atau memperlihatkan jari-jari saya di depan orang. Nah, kebayang khan betapa seringnya saya grogi karena mau tidak mau saya harus menggunakan jari-jari saya, untuk menulis, bersalaman,makan, memberikan atau menerima sesuatu, dll.
Dulu saya bahkan pernah berharap ada operasi yang bisa memperbaiki fungsi jari-jari saya dan membuatnya kelihatan normal seperti sebelum saya mengalami sakit arthritis
Dan mungkin sebenarnya memang bisa tapi tentunya dengan biaya yang mahal, yang tidak terjangkau oleh orangtua saya pada waktu itu. Sampai sekarang juga belum mampu sih
Jadi semakin menyadari betapa mahalnya biaya kesehatan he-he-he-he…..
Seiring berlalunya waktu, saya semakin bisa menerima jari-jari kacang panjang saya
Saya memang bukan tipe orang yang berlama-lama menyesali sesuatu he-he-he…..Lagipula keluarga dan teman-teman saya menerima saya apa adanya, bahkan kami sering bercanda soal jari kacang panjang saya ini
Sesekali memang orang-orang kadang menatap jari saya dengan ekspresi heran tapi saya sudah terbiasa dengan hal itu dan cuma tersenyum :p
Semakin bisa menerima bukan berarti hilangnya semua rasa minder
Terkadang saya masih merasa grogi ketika ada orang yang menatap tangan saya dengan begitu takjubnya. Dalam hati cuma bisa bilang, pasti orang baru nih, kelihatan dari ekspresinya ha-ha-ha-ha….
Kurang lebih tiga minggu yang lalu, saya misa pagi bersama keluarga kakak saya. Hari Minggu itu kami lebih terlambat dari biasanya (biasanya juga terlambat tapi tidak segitunya :p) karena menunggu ponakan-ponakan saya yang bangun kesiangan dan ditambah kesulitan dapat parkir. Dan seperti biasa juga kami duduk di teras gereja, supaya ponakan-ponakan saya yang masih balita itu tidak mengganggu umat lain kalau mereka “berkeliaran” dan tidak bisa duduk tenang
Saya duduk di sebelah laki-laki yang masih cukup muda, saya rasa umurnya sekitar 30-an, tubuhnya tegap, tinggi dan terlihat sehat. Ini baru saya perhatikan belakangan karena sejak awal misa saya merasakan panas matahari yang lumayan menyengat karena posisi duduk yang pas terkena matahari dan pagi itu amat sangat cerah sekali
Saya cuma agak heran karena dia membuat tanda salib dengan tangan kiri tapi saya pikir mungkin dia memang kidal. Ternyata bukan……Hal ini baru saya ketahui sewaktu salam damai, dia menggunakan tangan kiri untuk bersalaman tapi saya melihat bahwa tangan kanannya tidak bisa digerakkan, terlihat kaku dan kaki kanannya juga begitu ( yang ini baru saya sadari sewaktu melihat dia berjalan untuk komuni). Saya baru ngeh, sepertinya dia pernah mengalami serangan stroke.
Ketika pulang dari gereja saya jadi berpikir, saya cukup beruntung ya karena jari kacang panjang saya masih bisa digerakkan, masih bisa berfungsi meskipun mungkin tidak sebaik jari-jari yang normal. Masih bisa untuk bersalaman, menyuap makanan, memegang, menulis, mengetik blog ini dan masih banyak lagi…..Jadi bertambah lagi alasan untuk menerima diri saya apa adanya
Saya menyadari keseluruhan diri saya adalah anugrah yang diberikan Tuhan dan semuanya sudah disesuaikan dengan rencana-Nya, ada hal yang bisa saya rubah dan ada yang tidak. Tapi terkadang saya malah ingin merubah semuanya
Ingin tubuh yang lebih langsing, lebih tinggi, hidung lebih mancung, kulit lebih halus, rambut lebih indah. Wajar sih, namanya juga manusia, selalu ingin yang lebih baik. Cuma terkadang dalam proses mendapat yang lebih baik itu saya lupa pada apa yang lebih penting, perasaan bahagia dari dalam diri. Ketika perasaan bahagia itu tidak ada, apapun yang saya punya selalu terasa kurang, selalu menginginkan lebih, lagi dan lagi…..Dan saya mencarinya di luar diri saya, mengira bahwa dengan memiliki lebih banyak, lebih bagus, lebih indah maka saya akan bahagia. Sepertinya saya cuma harus belajar untuk bersyukur lagi
jawabanya IBU yah.. hm….